Socrates lahir pada tanggal 4 Juni 470 SM di Athena, Yunani. Dia adalah seorang filsuf Yunani kuno yang terkenal.
Biografi dan Karir:
Ibunya, Phainarete adalah seorang bidan dan ayahnya, Sophroniscos, adalah pematung. Dia mungkin dididik dalam gaya Athena di masa itu: ia belajar musik, senam dan tata bahasa. Di antara para empu yang berkontribusi untuk menciptakan filsafat Socrates 'adalah: Aspasia dan Diotima.
Socrates Xantippe menikah dan memiliki tiga orang anak: Lamprocles, Sophroniscos dan Menexene. Selama hidupnya ia mengambil bagian pada tiga kampanye militer: pada awal perang Peloponesis, antara 432-429 SM, di 424 SM dalam pertempuran di Delion dan di 422 dalam ekspedisi Amphipolis.
Dia berani, sabar, di
pihak bahagia dan minum sebanyak yang lain. Kemarahan dan kekerasan Socrates suasana hati tidak tahu. Begitu ia dipukul oleh orang asing di pesta, tapi dia tidak melakukan apa-apa. Pembenaran-Nya adalah: "jika keledai akan memukul saya dengan kuku, akan saya menuntut itu?".
Pada 399 SM ia dituduh oleh Meletos, Anytos dan Lycon karena ia tidak mengakui dewa dan dia rusak para pemuda. Tentu saja itu apa yang mereka katakan dan kalimat yang mereka minta adalah kematian.
Socrates menolak Lysias, pengacara dan membela dirinya. Dia telah tinggal di penjara selama 30 hari dan selama waktu ini menerima kunjungan dari teman-temannya. Mereka mengusulkan dia rencana melarikan diri, tetapi Socrates menolaknya.
Socrates berdedikasi jam terakhir hidupnya untuk percakapan dengan teman-temannya pada tema keabadian jiwa. Dia telah mandi dan sebelum matahari terbenam ia minum cangkir dengan racun dan kata-kata terakhirnya adalah: "Criton, aku berutang Asclepios satu ayam, jangan lupa untuk memberikannya". Socrates meninggal pada tanggal 7 Mei 399 SM
Sokrates adalah ahli filsafat Yunani yang diakui sebagai guru moral terbesar di dunia hingga saat ini. Ia adalah salah satu dari ketiga orang yang sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar peradaban Barat. Kedua orang lainnya tersebut adalah Aristoteles dan Plato yang tidak lain adalah muridnya. Sementara itu, Aristoteles adalah murid Plato. Socrates dilahirkan di Athena, Yunani pada tahun 470 SM di tengah-tengah masyarakat Yunani yang pada saat itu bermoral rendah. Setiap hari Socrates terus berpikir untuk mencari kebenaran. Ia sangat sering berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, atau di tempat orang ramai berkumpul dan melakukan tanya jawab dengan anak-anak muda. Ia selalu bertanya tanpa memberikan jawaban karena ia ingin orang lain berpikir dan memahami jawaban pertanyaan tersebut. Menurut Plato dan Aristoteles, ia adalah orang pertama yang memperkenalkan cara berpikir induktif dan membuat definisi universal. Cara berpikir ini kemudian dikenal sebagai metode Sokrates. Ia juga orang pertama di dunia yang mengemukakan bahwa di dalam diri manusia terdapat jiwa/ rohani. Ia menyadari bahwa jiwa jauh lebih penting daripada tubuh fisik dan jiwa tidak akan mati. Karena penemuannya inilah, banyak orang menganggapnya sebagai bapak psikologi rasional. Ia juga menemukan bahwa Tuhan hanya satu dan memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu. Ia menemukan hal ini melalui pemikirannya sendiri, bukan dari Al-quran dan Injil. Karena, kenyataan menunjukkan bahwa kedua kitab tersebut baru ada setelah beberapa abad kemudian. Dengan penemuannya ini ia sangat ingin mendidik moral masyarakat Athena menjadi lebih baik. Namun, penemuannya ini malah dianggap sebagai ajaran sesat yang hanya akan meracuni pikiran dan jiwa anak-anak muda. Ia dianggap melanggar ajaran keyakinan masyarakat Yunani yang pada saat itu menyembah banyak dewa. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Ia diperintahkan untuk meneguk racun dan ia mematuhi perintah tersebut. Meskipun pada saat itu sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk melarikan diri dari hukuman, namun ia lebih memilih untuk meminum racun karena ia patuh terhadap hukum. Peristiwa ini terjadi pada tahun 399 SM, pada saat Socrates berusia 71 tahun.
Konspirasi Tingkat Tinggi Dibalik Kematian John F.Kennedy
Kematian John Fitzgerald Kennedy mungkin hingga saat ini lebih terkenal dengan kisah pembunuhan yang sangat memilukan di hadapan masyarakat Amerika Serikat sendiri pada tanggal 22 November 1963. Meskipun Abraham Lincoln telah lebih dulu mencoreng kredibilitas dari pengamanan kepresidenan di Amerika Serikat, namun kematian Kennedy-lah yang terlihat begitu aneh dengan munculnya berbagai teori konspirasi tingkat tinggi seputar pembunuhannya, bahkan salah satunya dengan berani mengatakan bahwa justru Amerika sendiri yang terlibat di dalam kematian sang presiden.
Memang artikel ini akan terlihat sebagi suatu pengungkapan fakta lain dalam sejarah, mengingat selama ini sejarah hanya mencatat bahwa Kennedy tewas tertembak, dan pembunuhnya berhasil diadili. Namun dibalik semua itu ada sesuatu yang seolah ingin disembunyikan dari sejarah itu sendiri. Hal-hal seperti inilah yang membuat kredibilitas dari para sumber-sumber sejarah berita harus dipertanyakan lagi.
Dari berbagai teori konsiprasi yang muncul, sebagian besar mengarahkan pandangannya kepada CIA, KGB, mafia Amerika, direktur FBI J. Edgar Hoover, Richard Nixon yang pada saat itu sebagai mantan wakil presiden, Lyndon Johnson yang pada saat itu sebagai wakil presiden, Fidel Castro, kelompok anti Fidel Castro, dan masih banyak lagi teori-teori konspirasi seputar pembunuhan John F. Kennedy mengenai siapa sebenarnya otak dibalik pembunuhan dari presiden paman Sam yang terpilih pada tahun 1960 itu.
Kronologis Kejadian

Secara garis besar sejarah, kejadiannya memang terlihat seperti tidak ada keanehan sama sekali, tapi jika kita lebih teliti tentang sejarah itu sendiri, maka banyak keganjilan yang akan terdapat di dalam sejarah itu sendiri.
Pada musim gugur tahun 1963, sebenarnya terjadi suatu perdebatan di Gedung Putih mengenai rencana presiden ke Amerika. Dalam 6 bulan terakhir ancaman terhadap keselamatan presiden meningkat drastis, semuanya berasal dari para mafia, musuh-musuh CIA, kelompok anti Fidel Castro, kelompok fanatik dari partai Republik maupun gerakan fasisme daerah selatan.
Pada saat itu memang Texas dan Dallas adalah benteng yang paling tepat untuk dimintai dukungan jika ingin mengalahkan partai republik pada pemilu 1964 nanti. Sayangnya, karena ulah dari Kennedy yang mendepak Lyndon Johnson (padahal tim suksesnya sendiri) menimbulkan kekecewaan dari masyarakat Texas dan Dallas, sehingga mereka mulai mengalihkan pandangannya kepada partai Republik.
Pandangan seperti ini rupanya yang tidak ingin dihadapi oleh Kennedy. Ia kemudian memilih untuk meredam kritik masyarakat dengan merencanakan perjalanan dua hari ke Texas untuk mengunjugi San Antonio. Perjalanan ini tentu sangat beresiko perwakilan Kennedy untuk PBB baru saja dikasari massa di Texas sendiri, namun inilah cara sang presiden untuk tetap mengamankan benteng demi pemilu 1964 nanti yang tinggal beberapa bulan lagi.

Presiden John F. Kennedy akhirnya terbunuh dengan tembakan di leher di Dallas ketika ia sedang dalam iring-iringan kepresidenan dengan mobil yang terbuka pada tanggal 22 November 1963. Saat itu, Gubernur Texas, John Connally juga terluka. Hanya dalam waktu dua jam kemudian, Lee Harvey Oswald ditangkap karena kasus pembunuhan seorang polisi Dallas, dan malam itu juga ia didakwa atas tuduhan pembunuhan dalam kematian seorang perwira polisi, J.D Tippit. Pada keesokan harinya di pagi hari, Oswald tiba-tiba sudah didakwa dengan tuduhan membunuh Presiden. Pada 24 November 1963 kemudian, ketika sedang dalam perjalanan untuk memindahkan Oswald dari Kepolisian Dallas ke penjara county, Oswald ditembak oleh Jack Ruby, seorang pemilik club malam dan tewas seketika.

Pada tahun 1964 kemudian, Warren Commission menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa Oswald terlibat dalam suatu konspirasi tingkat tinggi untuk membunuh Presiden, dan sejak saat itu, kantor-kantor berita resmi mengumumkan bahwa sang pembunuh itu hanya bertindak sendirian. Meskipun bayang-bayang keanehan dalam penyelidikan pembunuhan tersebut pada awalnya mulai tenggelam perlahan-lahan lewat pernyataan resmi dari Warren Commission, namun pada tahun 1966, masyarakat Amerika dikejutkan dengan sebuah buku dari Mark Lane yang berjudul Rush to Judgement yang secara terbuka membantah pernyataan dari Warren Commission.
Pada tahun 1979 kemudian, the House Select Committee on Assassinations (HSCA) menyatakan sepakan dengan pernyataan resmi dari Warren Commission yang mengatakan bahwa Oswald sang pembunuh telah bertindak sendirian dalam membunuh John F. Kennedy dan tidak terlibat sama sekali dengan satu konspirasi tingkat tinggi. Yang aneh dari pernyataan resmi HSCPA ini adalah, mereka juga menyatakan bahwa, “Warren Commission telah gagal untuk menyelidiki kemungkinan konspirasi tingkat tinggi dibalik pembunuhan presiden”.
Jajak pendapat sendiri sejak 1966 telah secara konsisten mencerminkan kepercayaan publik bahwa Kennedy dibunuh sebagai hasil dari konspirasi. Ini juga tercermin dari hasil jajak pendapat dari ABC poll yang memiliki hasil bahwa, “7 dari 10 masyarakat Amerika menganggap bahwa pembunuhan John F. Kennedy adalah hasil dari suatu konspirasi tingkat tinggi dan bukan pembunuhan tunggal seperti yang selama ini disampaikan pihak berita resmi.” Masyarakat Amerika juga sepakat bahwa benar ada penembak kedua dalam pembunuhan Kennedy tersebut.
Lebih Dari Satu Penembak
Dalam penyelidikannya, Komisi Warren menemukan satu buah butir peluru yang tidak masuk akal untuk dijelaskan. Menurut penyelidikan dari FBI, senjata yang digunakan Oswald seharusnya hanya bisa menembak tiga kali dalam waktu lima sampai delapan detik. Menurut saksi mata yang sempat dimintai keterangan oleh Komisi Warren, mengatakan bahwa hanya tiga peluru yang ditembakkan ke arah mobil yang ditumpangi Kenneddy saat itu. Satu dari tiga peluru itu, tidak mengenai mobil sama sekali atau dengan kata lain meleset total, yang satu lainnya mengenai sang presiden dan berakibat fatal, kemudian yang ketiga berhasil melukai Gubernur John Connally. Serpihan peluru yang diambil dari bekas luka Connally kemudian akhirnya dinamakan “peluru ajaib” karena memiliki keanehan dengan peluru lainnya.
Kesaksian Para Saksi
Tiga puluh lima saksi yang berada saat penembakan itu menganggap bahwa tembakan itu ditembakkan dari arah depan Presiden (dari daerah bukit kecil berumput), sementara 56 saksi mata mengira tembakan berasal dari sebuah depository di belakang Presiden, dan 5 saksi berpikir bahwa tembakan berasal dari dua arah.
Nellie Connally (istri dari Gubernur John Connally) yang juga duduk di mobil presiden di samping suaminya, lewat bukunya From Love Field: Our Final Jam, bersikeras bahwa suaminya dihantam oleh sebuah peluru yang berbeda dari yang mengenai Kennedy.
Roy Kellerman dari US Secret Service Agent, bersaksi bahwa, “Saat itu, dalam detik penembakan yang terjadi, tumpukan peluru masuk ke dalam mobil.” Kellerman mengatakan bahwa ia kemudian tiba-tiba melihat sebuah lubang dengan diameter sekitar 5cm di bagian belakang sisi kanan dari kepala Presiden. Ini mengkonfirmasi tembakan kedua yang mungkin dilakukan oleh seseorang.
Lee Bowers yang saat itu mengoperasikan menara pengawas kereta api mengatakan bahwa dia melihat dua orang pria berdiri di belakang pagar di sebelah timur laut pada bagian bukit berumput (yang dikatakan para saksi yang sepakat bahwa ada penembak kedua) sebelum penembakan terjadi. Namun, ketika iring-iringan lewat, kedua pria tersebut pindah ke depan pagar dan penembakan pun terjadi.

Clint Hill, Agen Secret Service yang melindungi Presiden dalam perjalanan ke rumah sakit, menjelaskan bahwa, “Bagian belakang kepalanya hilang.” Kemudian, untuk sebuah film dokumenter dari National Geographic, saat diwawancarai oleh salah seorang kru ia menggambarkan cacat besar di tengkorak Kennedy sebagai “lubang menganga di atas telinga kanan, kira-kira sebesar telapak tanganku.” Ini seperti mengkonfirmasi bahwa bukan tembakan dari depan presiden yang berakibat fatal terhadap preseiden sendiri. Tidak ada dalam teori jika ditembak dari depan, maka yang terkena dampak paling parah adalah bagian belakang.
Beberapa teori konspirasi mengandaikan bahwa setidaknya satu penembak terletak di Bangunan Dal-Tex berdasarkan keterangan para saksi juga setelah mengamati lintasan peluru yang menghantam tepi jalan di ujung selatan Plaza yang melukai Dealey James Tague. Dari catatan resmi juga mengatakan bahwa ada bukti ilmiah yang diajukan ke HSCA pada tahun 1978 yang menunjukkan bagian yang bangunan Dal-Tex juga mempunyai kemungkinan sebagai sumber tembakan.
Saksi-Saksi Yang Tiba-Tiba Meninggal
Hingga tahun 1970, penyelidikan telah banyak mengalami kendala akibat dari banyaknya para saksi yang tiba-tiba meninggal secara misterius. Berikut adalah kisah-kisah aneh daripada para saksi yang tiba-tiba meninggal tanpa alasan yang jelas:
Gary Underhill, seorang agen CIA yang tiba-tiba ditemukan tewas dengan tembakan di kepala. Sebelumnya Underhill sempat mengaku bahwa CIA telah terlibat dalam pembunuhan Kennedy. Kasusnya kemudian dianggap sebagai bunuh diri.
Guy Banister, seorang mantan agen FBI tiba-tiba tewas dan dikatakan oleh pihak berita resmi bahwa Banister telah meninggal karena serangan jantung. Anehnya, dokumen yang berisi informasi mengenai gerakan anti-Fidel Castro telah menghilang dari kantornya.
Mary Meyer, seorang pembantu pribadi dari Kennedy selama di gedung putih dibunuh pada Oktober 1964 di sebuah taman di Wahington. Buku hariannya kemudian menghilang tanpa jejak.
Rose Cheramie, seorang pelacur di sebuah club malam milik Jack Ruby (yang membunuh Oswald) meninggal dalam suatu kecelakaan tabrak-lari. Dua hari sebelum kematiannya, ia bercerita kepada polisi bahwa ia mendengar dua orang pria latin telah berencana untuk membunuh presiden.
Analisis
Mantan Marinir AS penembak jitu, Craig Roberts dan Sersan Carlos Hathcock, yang juga sebagai US Marine Corps Sniper Instructor School (Istruktur Akademi Penembak Jitu Amerika) di Marine Corps Base Quantico, Virginia (Markas Tentara Amerika di Quantico), keduanya berpendapat bahwa sangat sulit untuk membuktikan seperti yang dikatakan FBI dan Komisi Warren. “Let me tell you what we did at Quantico (biar saya beritahukan kepada anda apa yang kami lakukan di Quantico),” kata Hathcock, “We reconstructed the whole thing: the angle, the range, the moving target, the time limit, the obstacles, everything. (Kami merekonstruksi seluruh hal: sudut, kisaran area, target yang bergerak, batas waktu, rintangan, bahkan semuanya), I don’t know how many times we tried it, but we couldn’t duplicate what the Warren Commission said Oswald did. (Saya tidak tahu berapa kali kami sudah mencobanya, tapi kami tidak bisa meniru apa yang dikatakan Komisi Warren tentang apa yang dilakukan Oswald.) Now if I can’t do it, how in the world could a guy who was a non-qual on the rifle range and later only qualified ‘marksman’ do it? (Sekarang jika saya tidak bisa melakukannya, bagaimana mungkin di dunia ini seorang pria yang tidak berpengalaman dengan jarak capai senjata dan juga tidak memenuhi syarat seorang ‘penembak jitu’ melakukannya?).”
Sekarang saya rasa anda sepakat dengan saya jika memang ada penembak kedua yang brilian dalam peristiwa November kelam dalam sejarah Amerika.
Sekarang saya akan mengajak anda untuk mengetahui alasan kenapa sang presiden ini dianggap patut dibunuh.
Kita akan melihat dulu records dari Kennedy. Dalam rentang 6 bulan terakhir sebelum penembakannya. Secret Service sendiri telah melaporkan ada lebih dari 400 ancaman terhadap keamanan presiden, tiga di antaranya terpaksa harus ditanggapi serius Secret Service sendiri. Kennedy sendiri memang dibenci oleh kelompok anti-Castro, sebagian kelompok rightwingers, para mafia Amerika, bahkan beberapa lembaga pemerintahan Amerika sendiri. Mungkin lebih tepat jika saya menggambarkannya sebagai Soeharto-nya Amerika. Penuh senyum, tetapi penuh intrik dibalik pemerintahannya.
Pencurian Suara
Kennedy naik ke kursi kepresidenan tidak dengan meninggalkan kesan baik bagi para peserta pemilu lainnya. Dia menjabat sebagai presiden dengan meninggalkan benih-benih kebencian terhadap pesaingnya. Saat pemilu pada tahun 1960, partai Demokrat mencurangi suara dari Partai Republik yang mengajukan kandidat Richard Nixon dengan cara merusak suara di dua negara bagian. Di Illinois, seorang pemimpin Mafia Sam Giancana mengatur agar 10.000 suara di sana diarahkan kepada Kennedy. Di Texas, tim sukses dari Kennedy, Lyndon Johnson, secara sewenang-wenang mendiskualifikasi sekitar 100.000 suara. Hasilnya, 51 daerah pemilihan suara yang seharusnya memberikan dukungan terhadap Nixon dianggap suara terhadap Kennedy.
Setelah akhirnya duduk menjadi presiden, Kennedy kemudian melupakan jasa dari Giancana dan Johnson. Pada awal masa pemerintahan kepresidenannya, Kennedy dan adiknya, Robert Kennedy mendirikan Departemen Kehakiman khusus yang ditujukan untuk menyerang kekuatan memberantas kejahatan terorganisir di Amerika Serikat dengan maksud membasmi mafia-mafia Amerika. Pada musim panas 1963, Kennedy akhirnya membuang Johnson dengan alasan periode sekertaris pribadi yang terlalu lama.
Teluk Babi
Segera setelah pemilu pada tahun 1960 berakhir, Kennedy juga telah berhasil membuat musuh baru. Pada tahun 1960, sebuah operasi dari 1400-an masyarakat di pengasingan yang anti-Komunis Kuba berkumpul untuk menggulingkan Fidel Castro. Kennedy kemudian merestui invasi tersebut untuk menyerbu Kuba pada bulan April tahun 1961. Tapi ketika mendarat di Teluk Babi, rupanya pasukan anti komunis ini terlalu meremehkan para pendukung Fidel Castro.
Ketika akhirnya tersudut di pantai, para penyerbu terpaksa meminta bantuan kepada Kennedy untuk segera mengirimkan bantuan artileri dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. Sayangnya, permintaan ini ditolak oleh Kennedy dan membiarkan para penyerbu ditawan oleh para pasukan pendukung Fidel Castro. Para mafia Kuba yang juga ingin kasino mereka kembali juga turut sakit hati dalam tindakan Kennedy ini.
Mereka yang Mungkin Terlibat
Jika memang ada konspirasi tingkat tinggi untuk membunuh Kennedy, mungkin pertanyaan yang muncul adalah siapa mereka. Hal ini juga telah lama dipertanyakan oleh Komisi Warren dan HSCA, sayangnya bukti-bukti dan saksi-saksi yang tiba-tiba meninggal membuat semuanya semakin kabur. Sejarah pun terpaksa di make-up. Setelah melakukan pertapaan yang cukup mendalam dengan Google, saya menemukan beberapa kemungkinan teori mengenai pembunuhan Kennedy yang paling mempunyai keiidentikan dengan pembunuhan Kennedy.
Fidel Castro dan Kuba
Teori lain yang populer adalah mengenai keterlibatan kalangan sayap kanan dan anti-Castro. Fidel Castro dikatakan telah berada dibalik kematian dari Kennedy. Dalam teori ini dikatakan bahwa Castro telah merekrut balik Oswald yang sebelumnya dikirim Kennedy untuk membunuh Fidel Castro. Jika teori ini benar, maka masuk akal jika Komisi Warren menutup-nutupi fakta ini dari publik untuk mengalihkan pandangan dunia jika presiden Amerika berhasil dibunuh komunis.
Teori ini juga memiliki kekuatan sendiri. Fidel Castro mempunyai motif untuk menghabisi Castro; CIA telah beberapa kali mengirimkan mafia untuk menghabisi sang diktator meskipun selalu berujung dengan kegagalan dari para mafia. Dalam suatu kesempatan, Fidel Castro pernah mengeluarkan pernyataan bahwa apa yang dilakukan oleh Kennedy dapat menjadi bumerang balik bagi Kennedy sendiri.
Sayangnya teori ini juga memiliki kelemahan. Dalam suatu wawancara dengan NBC pada tahun 1991, Kuba menyatakan bahwa Kuba telah mempererat hubungannya dengan Amerika sejak Krisis Rudal yang berarti dalam masa pemerintahan Kennedy, kedua negara mungkin telah menjalin hubungan lateral yang baik. Menurut saya memang kelemahan teori ini cukup kuat jika ditinjau dari tindakan Kennedy ketika kelonpok anti-Castro meminta bantuan kepadanya saat mereka terdesak dipantai sebelum menjadi tawanan Castro.
Mafia
HSCA sempat mengeluarkan teori jika adanya kemungkinan bahwa tindakan Oswald telah diprovokasi oleh seorang bos mafia, Carlos Marcelllo. Marcello jelas memiliki cukup motif. Meskipun Mafia telah secara terang-terangan membantu Kennedy untuk terpilih dalam pemilu 1960, namun tindakan dari Kennedy yang mendirikan Departemen Kehakiman khusus untuk memberangus Mafia dapat menjadi dorongan dari Marcello. Bagaimanapun teori ini juga memiliki kelemahan karena kurangnya bukti yang dapat menjelaskan keterlibatan Oswald dengan para mafia ini.
Setidaknya dari semua penyelidikan mengenai pembunuhan sang presiden ini telah menghasilkan bayang-bayang gelap yang terus menghantui sejarah yang mencatat mengenai kematian dari John Fitzgerald Kennedy
Revolusi Bolshevik 1917
Keadaan ini memaksa parlemen untuk mengganti beberapa personilnya, seperti mengganti Goremykin yang dianggap tidak berdaya dan sangat reaksioner, namun tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Dalam parlemen sendiri, para menteri bahkan melakukan fitnah terhadap anggota lainnya yang dianggap telah melakukan korupsi di tengah-tengah penderitaan rakyat. Pada saat seperti itu jelaslah bahwa cara-cara pemerintahan lama tidak dapat diteruskan lagi. Semangat revolusioner telah lama bangkit namun masih bnyak perdebatan apakah revolusi tersebut akan dilaksanakan pada saat sesudah atau sebelum perang atau pada saat perang berlangsung.
Tentu saja suasana di Rusia ini diperhatikan sepenuhnya oleh sekutu-sekutu barat. Pada musim dingin 1916-1917, suasana perang di
Revolusi ini pecah tanpa pimpinan dan tanpa suatu rencana, dalam perkembangan awalnya Lenin dan orang-orang Bolshevik tidak terlibat dan tidak memainkan peranan apapun, karena pada permulaan tahun 1917 Lenin dan Trotsky berada di luar negeri dalam masa pembuangannya di Switzerland. Selama masa pembuangannya, sebenarnya Lenin menentang peperangan dan dia menghimpun kekuatan di Zimerwald dalam bulan September 1915. Dia mendapat dukungan untuk menggulirkan pemerintahannya sendiri dan mengalihkan peperangan nasional menjadi peperangan internasional. Lenin sendiri tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang negaranya. Namun di Switzerland, Lenin bercerita bahwa revolusi ini adalah sebuah awal permulaan bagi sebuah revolusi sosialis di Eropa.
Revolusi ini tidak dipimpin oleh para pemimpin poitik, ahli-ahli teori golongan sosialis ataupun golongan cerdik pandai dari golongan liberal. Revolusi ini sendiri dimulai pada tanggal 8-9 Maret dari St.Petersburg oleh para pekerja pabrik yang berdemonstrasi terutama para pekerja perempuan. Pemerintah mencoba menghentikan demonstrasi ini dengan mengerahkan tentara. Namun tetara-tentara ini menolak untuk melakukan tembakan karena semakin banyaknya orang-orang yang berkumpul di jalan sambil menyanyikan lagu Marseilaisse.
Dunia pun terpusat pada revolusi ini. Pada tanggal 14 Maret 1917 dibentuklah pemerintahan sementara yang diketuai oleh Pangeran Gerorge Lvov, yaitu seorang pemimpin Zemstvo yang liberal dan seorang yang ingin melakukan pembaharuan-pembaharuan di Rusia. Pangaeran George Lvov percaya pada rakyatnya, dan banyak orang menaruh perhatian besar pada hasil revolusi ini, namun lagi-lagi rakyat Rusia kecewa atas revolusi yang terjadi karena jauh dari harapan yang mereka inginkan. Dalam pemerintahan anggota-anggota parlemen banyak yang terkemuka antara lain Milyukov sebagai Menteri Luar Negeri dan Guchkov sebagai Menteri Penerangan. Namun diantara yang paling hebat lainnya adalah Alexander Kerensky yaitu seorang sarjana hukum yang vokal yang termasuk salah satu anggota partai buruh yang menjadi penyemangat dalam revolusi ini.
Revolusi ini boleh dikatakan sebagai revolusi yang sepakat, karena selama 5 hari yaitu tanggal 9-14 Maret tidak ada pertumpahan darah. Rusia dalam hal ini telah mengalami banyak perubahan. Seperti tata tertib yang lama telah diganti dengan tata tertib yang baru, Tsar II telah meninggalkan sistem otokrasi tanpa adanya perlawanan. Pembatasan-pembatasan terhadap warga negara dihapuskan, hak-hak yang sama di berikan kepada semua golongan, tidak memandang ras, suku, agama dan golongan. Dan yang paling menhebohkan adalah para tahanan politik dibebaskan dengan biaya pemerintah dan hukuman matipun dihapuskan. Sehingga tidak kurang dari satu bulan saja yaitu pada bulan April 1917 Rusia telah menjelma menjadi sebuah negara yang bebas dan merdeka baik secara hukum dan kenyataannya.
Pda bulan Juli 1917, AlexanderKerensky yang berasal dari kelompok Menshevik, mengontrol pemerintahan transisi. Pemerintahan ini diguncang dengan percobaan kudeta yang dilakukan oleh Jenderal Kurnilov pada bulan September 1907. tapi akhirnya kudeta itu berhasil digagalkan. Walaupun gagal, percobaan kudeta itu cukup membuat pemerintah goyah dan memperkuat pasukan dari kelompok Bolshevik. Pada tanggal 6-7 November 1917 (24-25 Oktober dalam kalender Rusia) Kaum Bolshevik melakukan aksinya. Pasukan yang dipimpin oleh Leon Trotsky (Komite Militer Revolusioner Petrograd) mengerahkan kekuatan buruh dan tentara untuk mengontrol
Saat-saat Terakhir Revolusi Kebudayaan Cina
Ketika saya belajar sastra Cina di Universitas Cambridge, 1968 – 1971, Cina sedang berada di puncak Revolusi Kebudayaan. Dunia luar tak banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kecuali laporan media massa Eropa tentang mayat-mayat yang hanyut di Pearl River, dekat Hongkong dan Makao.
Selain menutup diri, negeri itu menolak segala yang berunsur Barat. Sebagai mahasiswa yang ingin belajar lebih lanjut, saya tak punya harapan untuk pergi ke Cina. Tapi dari sumber kepustakaan saya tahu, Cina senantiasa berubah seirama dengan perubahan kebijakan para pemimpinnya. Saya hanya bisa berharap dari perubahan itu.
Pemimpin Besar Mao Zedong memainkan peran penting sejak berdirinya Republik Rakyat Cina pada 1949. Ia menyingkirkan para pesaing dan musuhnya. Misalnya, ia menyerukan gerakan Anti-Kanan pada 1957 untuk menyingkirkan Zhou Enlai, pelopor gerakan Seratus Bunga tahun 1956.
Mao memprakarsai gerakan “Lompatan Jauh ke Depan” pada 1958 untuk memberi warna khusus bagi komunisme Cina. Berbeda dengan Soviet yang bertumpu pada industri berat, Mao menggalakkan pertanian yang ditunjang industri kecil di pedesaan. “Kalau Stalin hanya punya satu kaki, industri berat, kita punya dua kaki, yakni pertanian dan industri kecil,” ucap Mao.
Empat makhluk jahat
Mao menjejalkan aneka slogan. Para petani harus “menggali lebih dalam” untuk meningkatkan hasil. Ladang-ladang harus bebas dari “empat makhluk jahat”: burung, tikus, serangga, dan lalat. Maka sepanjang 1958 – 1960 jutaan serangga, tikus, lalat, dan burung dibantai.
Berhasilkah upaya itu? Para petani yang “menggali lebih dalam” belum sempat memetik hasil ketika mereka jatuh kelelahan. Punahnya burung berdampak pada terganggunya keseimbangan alam, sehingga belakangan burung dikeluarkan dari daftar “empat makhluk jahat”. Para pejabat sadar, ambisi Mao terlalu utopis. Tapi karena takut, mereka memberi laporan ABS. Angka produksi digelembungkan, data dan foto hasil panen direkayasa, sementara kenyataannya para petani menderita. Sepanjang 1958 – 1961 tak kurang dari 30 juta orang meninggal karena kelaparan.
Akhir 1958 Mao mundur dari jabatan sebagai pimpinan Partai Komunis. Ia sengaja mengambil jarak dari pusat kekuasaan agar bisa melihat betapa para pimpinan menjadi borjuis dan korup. Rakyat kehilangan semangat revolusioner. Bagi Mao, kenyataan itu tak bisa dibiarkan. Harus ada reformasi untuk meluruskan kembali jalan revolusi. Itulah Revolusi Kebudayaan. “Kebudayaan” tidak hanya berarti kesenian, melainkan seluruh aspek dan lembaga kemasyarakatan.
Mao mengerahkan ribuan pelajar dan mahasiswa ke Lapangan Tiananmen di pusat Kota Beijing. Mereka membawa buku kecil warna merah, The Little Red Book, berisi kutipan naskah-naskah pidato Mao.
Belakangan gerakan diperluas ke kalangan pekerja, buruh, dan petani. Mereka mengecam siapa pun yang berada dalam posisi pimpinan. Sering kecaman berubah menjadi sanksi atau hukuman. Korban berjatuhan, baik karena hukuman maupun bunuh diri.
Seorang dokter ahli bedah otak, misalnya, tiba-tiba dimutasi menjadi petugas kebersihan WC. Dosen atau petinggi universitas dialihtugaskan ke peternakan babi. Birokrat dikirim ke pedalaman agar menghayati keadaan rakyat.
Revolusi Kebudayaan juga menyertakan istri Mao, mantan bintang film tak terkenal Jiang Qing, untuk menyingkirkan para pesaingnya dalam ranah kesenian. Opera, film, dan panggung teater didominasi produksi Madam Mao. Lukisan bunga dan alam tak boleh dipasang, diganti gambar bendera merah, traktor di ladang, atau gambar Mao dalam ekspresi heroik.
Kaum perempuan tak boleh lagi berambut panjang dan dandan sesukanya. Jika ketahuan Tentara Merah, rambut mereka akan dipotong dan celana panjang ketat mereka akan dirobek di depan umum. Banyak pengarang dipenjara, dibuang ke kamp kerja paksa, atau dibiarkan frustrasi hingga bunuh diri. Beberapa pemusik atau pianis dipotong jarinya oleh Tentara Merah.
Sejak 1971 keadaan menjadi normal dalam versi Mao. Sekolah dan universitas dibuka kembali dengan syarat hanya buruh dan petani yang boleh belajar. Mahasiswa asing dan turis boleh datang, meski dalam wilayah terbatas. Para turis hanya disuguhi traktor dan sistem irigasi disertai pidato propaganda.
Saya beruntung tahun itu bisa ikut dalam rombongan pertama mahasiswa asing yang mengunjungi Cina setelah tertutup sejak 1966. Saya senang bukan karena bisa berkomunikasi dengan rakyat Cina dalam bahasa mereka, tetapi karena setiap kali bisa berbagi makan dengan mereka yang ternyata memang kelaparan.
Kunjungan singkat itu membuat saya ketagihan. Dengan keberuntungan yang lebih, pada 1975, permohonan saya ikut program pertukaran mahasiswa Inggris – Cina diterima.
Film propaganda
Malam hari, 25 September 1965, saya bergabung dengan sembilan mahasiswa Inggris lain mendarat di Bandara Beijing. Ada Rose yang sedang mendalami sejarah kesenian dan arkeologi Cina di London, ada pula Beth yang baru lulus dari Cambridge dan terpaksa meninggalkan suami serta anjingnya. Rombongan dari Leeds University, di antaranya Gerry dan Jim, serta Sarah yang baru saja melewati tingkat II.
Kami diangkut dengan bus menuju Foreign Language Institute di barat laut Beijing. Di kawasan itu terdapat berbagai perguruan tinggi dan institut, tak jauh dari Beijing University. Kami menuju asrama. Banyak mahasiswa asing di sana. Mereka yang dari negara maju belajar bahasa, sementara kebanyakan mahasiswa asal Asia dan Afrika belajar teknik dan kedokteran.
Asrama kami berlantai dua berwarna abu-abu, bagian dalamnya dilabur warna putih yang masih baru. Karena kualitas labur tidak bagus, lama-kelamaan rontok.
Paginya, usai sarapan, kami dibawa ke Kedubes Inggris yang terletak di kawasan diplomatik di sisi tenggara kota, Jianguomen wai. Pejabat kedutaan menasihati kami cara hidup sebagai orang asing agar tidak terjerumus dalam kesulitan.
Di kawasan diplomatik terdapat toserba Friendship Store yang menjual aneka barang asing keperluan sehari-hari. Tak jauh dari situ terdapat kompleks perumahan diplomat yang dijaga Tentara Pembebasan Rakyat bersenjata lengkap. Setiap rumah punya balkon, setiap keluarga memiliki tukang masak dan perawat anak yang disediakan oleh Public Security Bureau.
Setiap Jumat sore kami dijemput minibus untuk menuju The Bell, pub di Kedutaan. Sedangkan Sabtu pagi biasa diisi kegiatan senam tajiquan di lapangan kampus.
Hari Sabtu pertama diisi pemeriksaan kesehatan. Meski di negara asal kami sudah diperiksa, dan ada surat keterangannya, pihak berwenang di kampus tidak mau tahu. Lucunya, kaum laki-laki tidak perlu diperiksa darah, sementara para mahasiswi diambil darahnya untuk maksud yang tidak kami ketahui.
Sering di malam hari di lapangan terbuka diputar film. Beberapa film sempat saya saksikan. Haixia, misalnya, berkisah tentang bayi di keranjang yang ditemukan oleh pasangan nelayan yang lantas hidup sengsara. Kampungnya diserbu tentara Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek, keluarganya disiksa dan dibunuh. Sampai akhirnya Tentara Pembebasan Rakyat menyelamatkan dia, dan sejak itu hidup bahagia.
Latihan lempar granat
Tempat kuliah saya berada di sebuah bangunan abu-abu. Di depan terdapat patung Mao Zedong sebesar dua kali ukuran manusia. Sangat gagah dalam mantel khasnya, mengacungkan satu tangan ke depan. Itu memang pose standar Ketua. Tapi karena di seberang jalan terdapat Institute for Petroleum Studies dengan patung Mao yang sama besar dan sama posenya, jadinya kedua patung itu terkesan saling menghormat.
Kami diajar dua orang guru, Hu Laoshi (Guru Hu) dan Tian Laoshi. Hu lebih tua, santun, dan tenang, sedangkan Tian lebih muda namun berwibawa. Yang menyamakan keduanya adalah pakaian khas setelan abu-abu kedodoran.
Setiap hari, kecuali Minggu, kami belajar bahasa mulai pukul 08.00 -12.00, diselingi istirahat 20 menit. Pukul 10.00 selama delapan menit seluruh penghuni kampus bersenam diiringi musik. Lompat-lompat, membungkuk sampai jari tangan menyentuh jempol kaki, dsb. Tak ada minum kecuali di kantin.
Selasa sore kami melakukan laodong atau “pekerjaan tangan”. Bagi pelajar dan kaum intelektual Cina, kerja tangan paling membanggakan adalah mencangkul. Namun di Institut hal itu tidak diwajibkan, mungkin dianggap kelewat keras sehingga bisa menimbulkan protes di tingkat pejabat pemerintahan. Tapi beberapa mahasiswa Kanada yang getol mendalami Marxisme dan Leninisme tetap semangat mencangkul di sawah.
Kami juga ditugasi memecah batu bata untuk campuran semen. Heran, batu bata di Cina sangat rapuh. Saya jadi takut menyandarkan badan di tembok.
Kami juga diberi tugas membersihkan rumput. Bagi orang Cina masa itu, rumput adalah sarang nyamuk dan serangga lain, makhluk yang pada 1958 diperintahkan Mao untuk dibasmi. Ketika saya katakan, habitat nyamuk adalah genangan air dan bukan rumput, para pembimbing tidak mau tahu. Pantas, di banyak tempat yang saya kunjungi tidak banyak warna hijau.
Setiap Rabu sore kami wajib mengikuti pelajaran olahraga. Lari keliling lapangan, anggar menggunakan bambu, juga melakukan taijijian, versi lain dari taijiquan yang artinya pukulan pedang. Kami juga melakukan tolak peluru. Malah ada mahasiswi Spanyol yang kakinya kejatuhan peluru besi bulat.
Hanya sedikit mahasiswa yang bersemangat ikut. Kebanyakan ogah-ogahan. Padahal para instruktur tetap semangat mengulang-ulang seruan Ketua Mao,
“Kembangkan kekuatan fisikmu agar mampu membela Tanah Air!”
Ada juga latihan lempar granat. Yang kami genggam adalah granat kuno yang sudah tak bisa meledak, tidak ada pen pencabutnya. Tapi kami harus melakukannya penuh semangat, pura-pura menggigit pen kemudian melemparkannya. Kegiatan itu jelas tidak diketahui pihak British Council. Saya berpikir, apa kata masyarakat Inggris jika tahu uang pajak mereka dipakai untuk membiayai mahasiswanya mengikuti kegiatan yang mirip latihan gerilya di Cina?
Jumat sore kami belajar bahasa dan analisis aneka peristiwa yang biasa dimuat harian People’s Daily.
Waktu terus berjalan. Hingga pada akhir minggu ketiga yang menjemukan, kami harus melakukan kaimen banxue atau “sekolah di luar ruangan”. Kami dikirim ke kawasan pertanian.
Para petani bekerja di ladang-ladang negara, menggarap tanaman kubis, bawang, gandum dan padi, juga buah-buahan. Semua hasil disetorkan kepada pemerintah melalui unit kerja desa, sementara keluarga petani tinggal memiliki sedikit lahan untuk ditanami sayuran. Setiap hasil panen yang disetor, yang mestinya dibayar tunai oleh pemerintah, pada praktiknya sering diganti dengan minyak, telur, gandum, atau kayu bakar.
Berapa harga celana?
Bergaul dengan petani ternyata cukup menyenangkan. Banyak kejutan. Misalnya, dugaan semula bahwa orang Cina menikah pada akhir usia 20-an demi program keluarga berencana, ternyata salah. Mereka terkejut ketika tahu saya masih lajang pada usia 27. Malang bagi teman saya Rose, karena tunangannya yang ditinggal di Inggris berumur 37 tahun. “Bagaimana mungkin kamu mencintai laki-laki setua itu?” tanya petani di komunitas rakyat Sijiqing.
Hampir setiap saat kami membicarakan harga. Mereka bertanya berapa harga celana, berapa harga televisi, dan ketika saya jawab angkanya dalam hitungan yuan, mereka berseru sambil menahan napas. Ketika saya katakan harga rumah di Inggris jika dihitung dalam yuan, mereka berteriak.
Rupanya, keingintahuan orang Cina soal harga tidak hanya pada waktu itu. Dalam kisah pengalaman seorang dokter Spanyol yang menyertai diplomat Inggris di masa awal pembangunan gedung Kedubes Inggris di Beijing, tahun 1866, juga diceritakan, para tukang setempat banyak bertanya tentang harga celana.
Permohonan membeli sepeda
Institut Bahasa terletak di pinggiran Beijing. Jarak antar tempat di kampus juga cukup jauh. Sehingga saya dan beberapa teman memutuskan untuk membeli sepeda.
Setiap hari jutaan sepeda berlalu-lalang di kota, namun hampir tak ada sepeda baru. Kebanyakan sepeda laki-laki dengan palang melintang, warnanya pun hitam. Rupanya, itu akibat prosedur yang cukup berbelit untuk memiliki sepeda, selain memang mahal harganya.
Sebuah keluarga, misalnya, bisa menabung sepanjang satu tahun untuk membeli sepeda. Ketika uang sudah terkumpul, ternyata mereka hanya bisa mendaftar untuk beli satu.
Sepeda dikenai pajak tahunan. Ada pelat nomor yang dipasang pada penahan lumpur di ujung spatbor belakang. Jika nomor ini tak ada ketika diperiksa polisi, pengendara didenda 20 yuan (sepertiga gaji rata-rata pekerja di Cina). Denda yang sama diterapkan bagi setiap pelanggaran. Misalnya, bersepeda sambil membawa payung terbuka, memboncengkan orang, dsb.
Orang asing hanya bisa membeli sepeda di Friendship Store. Saya memilih sepeda perempuan tanpa palang yang ternyata malah merepotkan karena kelewat ringan. Perjalanan 9 km dari toko ke kampus harus saya tempuh dengan jumlah kayuhan berlipat kali dibandingkan dengan teman yang membeli sepeda laki-laki.
Sesampai di asrama, kami masih dihadapkan pada keruwetan untuk memperoleh pelat nomor. Pertama, kami harus memiliki kartu mahasiswa. Bentuknya seperti dompet plastik berisi foto pemilik, dilengkapi beberapa cap dan tanda tangan para administrator. Masalahnya, saat itu belum ada jasa foto kilat di Beijing. Kami harus pergi ke studio foto Wudaokou, difoto, kemudian menunggu seminggu sampai foto jadi.
Di pusat kota, lalu lintas padat oleh sepeda yang berbaur dengan bus dan lori. Serunya, semua bersaingan membunyikan bel dan klakson. Saking ributnya, bel jadi kehilangan makna. Tertabrak atau terserempet adalah hal biasa.
Di masa Revolusi Kebudayaan lampu tidaklah penting. Maka bersepeda di malam hari menjadi kesulitan tersendiri. Apalagi di atas pukul 21.00, saat lampu lalu-lintas tidak berfungsi karena petugasnya pulang.
Di tempat parkir yang bertarif seragam dua yuan, penjaga yang kebanyakan perempuan memberikan sepotong karton bernomor yang digapit bambu, sementara potongan lain dengan nomor yang sama diikatkan di setang.
Tak ada pembalut
Menjelang musim dingin, pembimbing asrama membagikan kupon untuk ditukarkan mantel. Walau sebelumnya telah siap menghadapi cuaca dingin,
saya tetap kaget dengan suhu yang sesekali -5oC. Mengikuti cara berpakaian orang Cina di musim dingin, sampai enam lapis baju, memang perlu.
Para penduduk juga memperoleh kupon, tapi untuk ditukarkan dengan gandum, minyak, telur, kain, dan komoditas lain yang di musim dingin pasokannya berkurang. Kupon hanya berlaku lokal. Jika akan pergi jauh, orang harus meminta kupon yang berlaku secara nasional. Kalau tidak, ya, membawa bekal sendiri.
Di toko, pada awal bulan roti yang tersedia berwarna putih, yang disebut mantou. Pada akhir bulan, ketika tepung putih makin langka, yang dijual roti warna coklat.
Tapi makanan bukan masalah, yang memprihatinkan adalah kebersihan. Ya, bagi perempuan asing, satu tahun tinggal di Cina saat itu adalah perjuangan. Pembersih paling sederhana, misalnya handuk untuk sanitari, tidak ada. Apalagi pembalut kala menstruasi. Perempuan Cina mengatasinya dengan cara primitif yakni membuat sendiri pembalut dari kertas WC, robekan kain, atau koran bekas.
Di kelompok kami, para perempuan telah siap dengan pil penunda menstruasi. Tapi saya hanya bisa melakukannya sekali pada bulan pertama, itu pun setelah berkonsultasi lewat surat dengan ibu saya. Selebihnya, untuk sebelas bulan sisa masa tinggal di Cina, di kamar tidur saya menumpuk stok pembalut.
Ke Universitas Beijing
Kami menjalani seleksi agar bisa melanjutkan kuliah di Universitas Beijing, meski hanya untuk beberapa bulan. Ujian tidak terlalu sulit, namun birokrasinya berbelit. Malah setelah dua bulan menunggu, di musim dingin akhir tahun 1975 itu, tiba-tiba universitas melakukan seleksi tambahan.
Beruntung, saya lulus. Juga Beth dan Rose. Mahasiswa asal Albania dan Korea Utara paling banyak jumlahnya. Di perguruan tinggi yang acap disebut “Beida” (singkatan dari Beijing Daxue) itu tergabung sekitar 7.000 mahasiswa. Berbeda dengan di Institut, di tempat baru suasana revolusioner amat terasa. Poster dan selebaran berganti-ganti setiap hari. Beida menjadi ajang kampanye dan adu kepentingan.
Di asrama saya memperoleh teman sekamar gadis Beijing berusia 25, Yang Huimei. Ia bekerja di otoritas transportasi, dan kuliah untuk mencari kredit poin demi kenaikan jenjangnya. Setiap Sabtu sore ia pulang, meninggalkan saya bengong di kamar sepanjang hari Minggu.
Di sela-sela kuliah sejarah dan “kebudayaan” (saya beri tanda kutip karena materi kuliah bersifat indoktrinatif, membatasi hanya karya sastra dan budaya terbitan tahun 1965 ke atas), saya sering bersepeda dengan Beth dan beberapa teman menyusuri jalanan Beijing. Sesekali ada kunjungan wajib ke peninggalan sejarah dan kawasan pertanian.
Memasuki bulan Maret, cuaca mulai hangat. Saya ikut berbagai perayaan dan arak-arakan, juga berkumpul di Lapangan Tiananmen. Pihak Kedutaan sampai memperingatkan agar kami tidak terjerumus pada kepentingan partai. Saat itu nama Deng Xiaoping banyak disebut-sebut, sementara oleh kroni Mao ia dianggap tokoh yang tidak sejalan. Mao lebih menyukai Hua Guofeng, padahal banyak orang Cina kurang menyukainya.
Di akhir Juli yang panas, kuliah selesai. Kami mengisi liburan dengan pergi berombongan ke pedalaman naik kereta api. Celakanya, terjadi gempa bumi. Pusatnya di kota pertambangan Tangshan, sekitar 60 km timur laut Tianjin atau 150 km dari Beijing. Getarannya terasa sampai ibukota, kendati tak menimbulkan korban jiwa.
Pulang naik KA Trans Siberia
Saat kepulangan saya tiba ketika Beijing sedang dalam kondisi darurat pasca gempa bumi. Pasokan barang tersendat, kantor-kantor memindahkan pelayanan di halaman. Saya berencana pulang jalan darat naik kereta api Transsiberia. Nina, gadis Denmark yang sekelas waktu di Institut Bahasa, ingin pergi bersama-sama. Untuk mengurangi bawaan, saya mewariskan beberapa baju kepada teman. Itu pun saya masih harus membeli “kopor” tambahan berupa keranjang bambu untuk menaruh pakaian.
Tak banyak acara perpisahan. Program saya tak memberlakukan ujian akhir karena mungkin dianggap tidak penting. Dokumen yang saya terima hanya kertas bertuliskan “Sertifikat Kehadiran”.
Suatu hari Rabu, ditemani Huang Laoshi, kader partai yang bertugas melepas kepergian saya, Transsiberia yang saya tumpangi pun berangkat. Kereta yang penuh asap menyusuri rel ke luar Kota Beijing, menanjak sampai melewati Tembok Besar dekat Green Dragon Bridge, kemudian melalui dataran menuju Mongolia. Penjaga perbatasan tertawa melihat keranjang bambu yang saya jadikan kopor pakaian. Juga topi pandan saya.
Mongolia sangat sepi. Lebih dari lima jam yang tampak hanya padang rumput. Baru di dekat stasiun ada seorang lelaki berkuda mengangkat papan bulat bergagang. Rupanya, ia petugas sinyal kereta.
Sepanjang jalan saya banyak membordir. Ketika masuk perbatasan Rusia, kami istirahat cukup lama karena roda kereta api harus diganti akibat perbedaan jarak antar-rel kereta Cina dan Rusia. Tubuh kami dipaksa beradaptasi karena sepanjang empat hari perjalanan telah melewati enam zona waktu.
Di Moskow kami berganti kereta. Naik semacam mobil wagon panjang menuju Stasiun Finlandia. Nina menuju negaranya, dan saya ke Inggris melalui Polandia dan Jerman Timur. Di Berlin Timur lagi-lagi penjaga perbatasan terkesan pada kopor bambu dan topi pandan saya. Juga jaket model Sun Yat-sen dan celana baggy biru tua.
Perjalanan di Eropa daratan berakhir di Ostend, untuk dilanjutkan dengan feri ke Dover, pelabuhan di Inggris. Akhirnya, seminggu setelah dari Beijing, saya pun menginjakkan kaki di London.
Dua minggu setelah saya pulang, tepatnya 9 September 1976, Ketua Mao wafat. Saya pergi ke Kedubes Cina di Portland Place, London, dan menuliskan nama saya dalam buku duka cita. Seandainya masih di Cina, saya pasti ikut perkabungan nasional dengan segala upacaranya.
Saya mulai bekerja di perpustakaan School of Oriental and African Studies sambil terus mengikuti perkembangan Cina. Pada 21 Oktober saya mendengar kabar “Kelompok Empat” ditangkap dua minggu sebelumnya. Mereka adalah Jiang Qing, janda Mao, serta Yao Wenyuan dan Zhang Chunqiao, dua tokoh menonjol di Shanghai selama Revolusi Kebudayaan. Seorang lagi adalah Wang Hongwen, penjaga keamanan dari Pabrik Pemintalan No. 17 di Shanghai yang memobilisasi para buruh tekstil selama Revolusi Kebudayaan.
Terus terang selama di Cina, istilah “Kelompok Empat” tidak pernah saya dengar. Yang ada hanya beberapa tokoh yang sangat ditakuti karena berada di pusat kekuasaan. Tapi sejak empat tokoh itu ditangkap, aneka interpretasi dan publikasi berkembang bagai tak terkendali.
Secara pelahan Deng Xiaoping naik menuju kekuasaan. Pemikirannya yang dulu tidak diakui kini diamini. Yang amat terasa adalah suasana kampus karena tak ada lagi “sekolah terbuka” di daerah pertanian. Tak ada lagi mahasiswa dengan kategori tiga pilar politik: pekerja-petani-tentara. Ujian seleksi perguruan tinggi diberlakukan lagi untuk umum. Mahasiswa tak perlu lagi ikut mengikat sayuran, dan area penanaman padi tidak harus ke utara Sungai Yangtze agar tidak menentang alam.
Seruan Deng Xiaoping, “Menjadi kaya itu mulia,” mengubah wajah Cina secara dramatis. Pakaian dan tata rambut warga berubah. Observatorium yang didirikan rohaniwan Jesuit di Jianguomen, yang dulu menjadi satu-satunya monumen tinggi, kini diapit hotel dan gedung pencakar langit. Ketika suatu saat saya kembali ke sana membawa rombongan turis Eropa, atau kedatangan berikutnya mendampingi delegasi parlemen Inggris, Revolusi Kebudayaan cuma menjadi cerita yang sayup-sayup terdengar.
Mungkin cenderung dilupakan.
Sumber : Frances Wood, Hand-Grenade Practice in Peking, My Part in the Cultural Revolution, 2000/SL, dimuat di Intisari tahun 2001.

